Tampilkan postingan dengan label Afkar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afkar. Tampilkan semua postingan

18 Maret 2009

Dajjal, Siapakah dia itu?


Telah lahir bayi Dajjal di Israel. Bayi ini fisiknya menjukkan kebenaran ramalan nabi Muhammad
Memang benar bahwa kebanyakan Hadits menggambarkan seakan-akan Dajjal itu orang yang bermata satu, yang di dahinya terdapat tulisan Arab yang terdiri dari huruf kaf, fa' dan ra' (atau kafara, artinya kafir), dan yang membawa keledai, sungai dan api. Tetapi jika Hadits-hadits itu kita cocokkan dengan uraian Al-Qur'an, maka akan nampak dengan jelas, bahwa Dajjal bukanlah nama orang, melainkan suatu bangsa, atau lebih tepat lagi, segolongan bangsa.

Dengan tegas Al-Qur'an mempersamakan Dajjal dengan bangsa-bangsa Kristen, dan lagi, Al-Qur'an menyatakan bahwa Dajjal dan Ya'juj wa-Ma'juj bukanlah dua jenis makhluk yang berlainan, karena fitnah yang ditimbulkan oleh mereka itu disebutkan bersama-sama.

Kami juga mempunyai bukti dari kitab Bible yang menerangkan, bahwa Ya'juj wa-Ma'juj adalah bangsa-bangsa Eropa. Dengan demikian teranglah bahwa Dajjal juga berarti bangsa. Sebagaimana telah kami terangkan di muka, fitnah Dajjal itu bersumber pada menangnya agama Kristen.

Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang membuktikan bahwa Dajjal itu bukan orang melainkan bangsa, sebagaimana Roma dan Persi yang diuraikan dalam Hadits itu bukanlah tempat melainkan bangsa. Hadits itu berbunyi sbb:

"Rasulullah SAW bersabda: Kamu akan bertempur dengan Jazirah Arab, dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu, lalu kamu akan bertempur dengan Persi, dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertampur dengan Roma, dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu; lalu kamu akan bertempur dengan Dajjal, dan Allah akan memberi kemenangan kepada kamu".

Di sini pertempuran dengan Dajjal diuraikan dengan kalimat yang sama seperti pertempuran dengan Arab, Persi dan Roma. Ini menunjukkan bahwa Dajjal adalah bangsa, seperti halnya Arab, Persi dan Roma. Boleh jadi yang diisyaratkan di sini ialah Perang Salib, tetapi mungkin pula mengisyaratkan peristiwa yang terjadi di dunia pada zaman sekarang. Namun satu hal sudah pasti, yakni bahwa menurut Hadits ini, Dajjal berarti bangsa atau segolongan bangsa; seperti halnya Persi atau Roma.

Tetapi masih saja harus dijelaskan, mengapa dalam Hadits dijelaskan seakan-akan Dajjal itu orang. Sebagaimana telah kami terangkan, semua ramalan Nabi Suci itu didasarkan pada ru'yah atau kasyaf (visiun), dan dalam ru'yah atau kasyaf, suatu bangsa hanya digambarkan sebagai orang-seorang. Sebenarnya, bangsa itu dikenal dari ciri-cirinya; dan dalam ru'yah, ciri-ciri ini hanya dapat diperlihatkan dalam bentuk orang-seorang. Bahkan dalam bahasa sehari-hari, bangsa itu diajak bicara bagaikan orang. Misalnya, Al-Qur'an mengajak bicara bangsa Israil, seakan-akan bangsa Israil itu orang. Bacalah misalnya, ayat Al-Qur'an berikut ini:

"Wahai kaum Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kamu, dan bahwa Aku memuliakan kamu di atas sekalian bangsa" (2:47).

Kaum Bani Israil yang diperingatkan di sini ialah mereka yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW, tetapi peristiwa yang dimaksud ialah yang terjadi pada zaman nabi Musa, atau beberapa abad sesudah beliau. Kenikmatan yang teruraikan dalam ayat ini telah diberikan, kepada kaum Bani Israil zaman dahulu, tetapi ayat Al-Qur'an ini ditujukan kepada kaum Bani Israil zaman sekarang yang sedang dalam keadaan hina dan suram. Tetapi seluruh kaum Bani Israil ini dikatakan bagaikan satu orang.

Demikianlah seluruh bangsa Dajjal diperlihatkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam ru'yah bagaikan satu orang, padahal Dajjal seperti yang digambarkan oleh Al-Qur'an menunjukkan bahwa Dajjal adalah segolongan bangsa yang ciri-ciri khasnya sudah dikenal.


Mengenal Dajjal Khurosan


Asal-Usul Keluarganya:

Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Yahudi. Dia bukan Jin atau apajua makhluk lain selain ia sebagai manusia yg ditangguhkan ajalnya “MinalMunzharin” seperti halnya Nabi Isa as yg di angkat oleh Allah swt ke ataslangit dan ditangguhkan kematiannya sehingga beliau nantinya turun semula keatas muka bumi ini lalu beliau akan mati dan di kuburkan di Madinah AlMunawwarah. Sama juga halnya dgn Iblis yg di tangguhkan kematiannya sehinggakiamat nanti.
Dajjal; ayahnya seorang yg tinggi dan gemuk. Hidungnya seperti Paruh burung.Sedangkan Ibunya pula seorang perempuan gemuk dan banyak dagingnya. MenurutImam Al Barzanji ada pendapat mengatakan bahawa asal keturunan bapanya ialahseorang Dukun Yahudi yg di kenali dgn “syaqq” manakala ibunya adalah daribangsa Jin. Ia hidup di zaman Nabi Sulaiman as dan mempunyai hubungan denganmakhluk halus. Lalu oleh Nabi Sulaiman ia akhirnya ditangkap dan dimasukkanke dalam penjara. Walau bagaimanapun kelahiran dan kehidupan masa keciltidak diketahui dgn jelas.
Sifat Badannya:
Hadis Huzaifah r.a katanya: Rasulullah s.a.w. telah bersabda: Dajjal ialah orang yang buta matanyasebelah kiri, lebat (panjang) rambutnya serta dia mempunyai Syurga danNeraka. Nerakanya itu merupakan Syurga dan Syurganya pula ialah Neraka(Hadis Sahih Muslim)
Ada beberapa ciri perawakan Dajjal yg disebutkan dalam Hadis Rasulullahsaw, diantaranya:
Seorang yg kelihatannya masih muda;Berbadan Besar dan agak kemerah-merahan;Rambutnya kerinting dan tebal. Kelihatan dari belakang seolah-olah dahankayu yg rimbun.
Dan tandanya yg paling ketara sekali ada dua:Pertama: Buta mata kirinya dan kelihatan seperti buah kismis yg kecut,manakala mata kanannya tertonjol keluar kehijau-hijauan berkelip-keliplaksana bintang. Jadi kedua-dua matanya adalah cacat.Kedua: Tertulis didahinya tulisan “Kafir (Kaf-Fa-Ra)”. Tulisan ini dapatdibaca oleh setiap org Islam, sama ada ia pandai membaca atau tidak.Mengikut hadis riwayat At-Thabrani, kedua-dua tanda ini menjelma dalam diriDajjal setelah ia mengaku sebagai Tuhan. Adapun sebelum itu, kedua-dua tandayg terakhir ini belum ada pada dirinya.
Tempat Tinggalnya Sekarang:
Menurut riwayat yg sahih yg disebutkan dlm kitab “Shahih Muslim”, bahawaDajjal itu sudah wujud sejak beberapa lama. Ia dirantai di sebuah pulau danditunggu oleh seekor binatang yg bernama “Al-Jassasah”. Terdapat hadis mengenainya.. (tetapi terlalu panjang utk ditulis.. andaboleh membaca terus dari buku). Daripada Hadis ini jelaslah bagi kita bahawaDajjal itu telah ada dan ia menunggu masa yg diizinkan oleh Allah swt utkkeluar menjelajah permukaan bumi ini dan tempat “transitnya” itu ialah disebelah Timur bukan di Barat.
Berapa lama ia akan hidup setelah kemunculannya:
Dajjal akan hidup setelah ia memulakan cabarannya kepada umat ini, selamaempat puluh hari sahaja. Namun begitu, hari pertamanya adalah sama dgnsetahun dan hari kedua sama dengan sebulan dan ketiga sama dengan satuminggu dan hari-hari baki lagi sama seperti hari-hari biasa. Jadikeseluruhan masa Dajjal membuat fitnah dan kerosakan itu ialah 14 bulan dan14 hari. Dalam Hadis riwayat Muslim ada disebutkan:
Kami bertanya: “Wahai Rasulullah! Berapa lamakah ia akan tinggal di mukabumi ini? Nabi saw, menjawab: Ia akan tinggal selama empat puluh hari. Hariyg pertama seperti setahun dan hari berikutnya seperti sebulan dan hariketiga seperti seminggu. Kemudian hari yg masih tinggal lagi (iaitu 37hari) adalah sama seperti hari kamu yg biasa.Lalu kami bertanya lagi: Wahai Rasulullah saw! Di hari yg panjang sepertisetahun itu, apakah cukup bagi kami hanya sembahyang sehari sahaja (iaitu 5waktu sahaja). Nabi saw menjawab: Tidak cukup. Kamu mesti mengira hari itudgn menentukan kadar yg bersesuaian bagi setiap sembahyang..”
Maksud Sabdaan Rasulullah saw, ini ialah supaya kita mengira jam yg berlalu pada hari itu. Bukan mengikut perjalanan matahari seperti biasanya kitalakukan. Misalnya sudah berlalu tujuh jam selepas sembahyang Subuh pada hariitu maka masuklah waktu sembahyang Zohor, maka hendaklah kita sembahyangZohor, dan apabila ia telah berlalu selepas sembahyang Zohor itu tiga jamsetengah misalnya, maka masuklah waktu Asar, maka wajib kita sembahyang AsarBegitulah seterusnya waktu Sembahyang Maghrib, Isyak dan Subuh seterusnyahingga habis hari yg panjang itu sama panjangnya dgn masa satu tahun danbilangan sembahyang pun pada sehari itu sebanyak bilangan sembahyang setahunyg kita lakukan. Begitu juga pada hari Kedua dan ketiga.
Fitnah Dajjal:
Dajjal telah diberi peluang oleh Allah swt utk menguji umat ini. Oleh keranaitu, Allah memberikan kepadanya beberapa kemampuan yg luar biasa. Di antarakemampuan Dajjal ialah:
1. Segala kesenangan hidup akan ada bersama dengannya. Benda-benda beku akanmematuhinya.Sebelum kedatangan Dajjal, dunia Islam akan diuji dahulu oleh Allah dgnkemarau panjang selama 3 tahun berturut-turut. Pada tahun pertama hujan akankurang sepertiga dari biasa dan pada tahun kedua akan kurang 2/3 dari biasadan tahun ketiga hujan tidak akan turun langsung. Umat akan dilandakebuluran dan kekeringan. Di saat itu Dajjal akan muncul membawa ujian. Makadaerah mana yg percaya Dajjal itu Tuhan, ia akan berkata pada awan: Hujanlahkamu di daerah ini! Lalu hujan pun turunlah dan bumi menjadi subur. Begitujuga ekonomi, perdagangan akan menjadi makmur dan stabil pada org ygbersekutu dgn Dajjal. Manakala penduduk yg tidak mahu bersukutu dgn Dajjal..mereka akan tetap berada dlm kebuluran dan kesusahan.
Dan ada diriwayatkanpenyokong Dajjal akan memiliki segunung roti (makanan) sedangkan org ygtidak percaya dengannya berada dalam kelaparan dan kebuluran.
Dalam hal ini, para sahabat Rasullullah s.a.w. bertanya:”Jadi apa yg dimakan oleh org Islam yg beriman pada hari itu wahaiRasulullah?”Nabi menjawab:”Mereka akan merasa kenyang dengan bertahlil, bertakbir, bertasbih danbertaubat. Jadi zikir-zikir itu yang akan menggantikan makanan.” H.R IbnuMajah
2. Ada bersamanya seumpamanya Syurga dan Neraka:
Di antara ujian Dajjal ialah kelihatan bersama dengannya seumpama syurga danneraka dan juga sungai air dan sungai api. Dajjal akan menggunakankedua-duanya ini untuk menguji iman org Islam kerana hakikat yg benar adalahsebalik dari apa yg kelihatan. Apa yg dikatakan Syurga itu sebenarnya Nerakadan apa yg dikatakannya Neraka itu adalah Syurga.
3. Kepantasan perjalanan dan Negeri-Negeri yang tidak dapat dimasukinya:
Kepantasan yg dimaksudkan ini tidak ada pada kenderaan org dahulu. Kalauhari ini maka bolehlah kita mengatakan kepantasan itu seperti kepantasanjet-jet tempur yg digunakan oleh tentera udara atau lebih pantas lagidaripada kenderaan tersebut sehinggakan beribu-ribu kilometer dapat ditempuhdalam satu jam”… Kami bertanya: Wahai Rasulullah! Bagaimana kepantasan perjalanannya diatas muka bumi ini?Nabi menjawab:”Kepantasan perjalanannya adalah seperti kepantasan “Al Ghaist” (hujan atauawan) yang dipukul oleh angin yang kencang.” H.R Muslim
Namun demikian, Dajjal tetap tidak dapat memasuki dua Bandar suci umat Islamiaitu Makkah Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah.
4. Bantuan Syaitan-Syaitan untuk memperkukuhkan kedudukannya:
Syaitan juga akan bertungkus-lumus membantu Dajjal. Bagi syaitan, inilahmasa yg terbaik utk menyesatkan lebih ramai lagi anak cucu Adam a.s.
http://netlog.wordpress.com/category/siapa-dajjal-itu

Manhaj Golongan Selamat





INILAH MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT

1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).”
(Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

2. Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan Rasul-Nya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan diantara mereka, sebagai realisasi firman Allah :
“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’ : 59)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ : 65)

3. Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan Rasul-Nya, realisasi dari firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat : 1)

Ibnu Abbas berkata :
“Aku khawatir akan jatuh batu dari langit (mereka akan binasa). Aku katakan, ”Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, sedang mereka (membantah) dengan mengatakan, “Abu Bakar dan Umar berkata.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abdil Barr)

4. Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid. (Silahkan baca buku yang sangat bagus tentang masalah Tauhid dengan judul “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad At-Tamimi, yang mengupas tentang keagungan kedudukan Tauhid serta menerangkan berbagai macam syirik yang sangat berbahaya,ed).

5. Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya, karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan,
“Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata,”Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad Shahih.”)

6. Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam Rasul-Nya yang ma’sum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu. Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
“Setiap bani adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits Hasan riwayat Imam Ahmad)

Imam Malik berkata,”Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”

7. Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits. Tentang mereka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Senantiasa ada segolongan dari ummatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)

8. Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang diantara mereka . Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. (Lihat perkataan para Imam Madzhab pada muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, yang mereka bersepakat agar meninggalkan perkataan mereka bila tidak sesuai dengan hadits shahih, ed.)

9. Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka melarang segala jalan bid’ah (perkara yang diada-adakan dalam agama) dan sekte-sekte yang menghancurkan dan memecah belah ummat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para shahabatnya.

10. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para shahabatnya, sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah –dengan izin Allah-.

11. Golongan Yang Selamat mengingkari perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, sebab undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumnya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.

12. Golongan Yang Selamat mengajak seluruh ummat Islam berjihad di jalan Allah. Jihad adalah wajib bagi setiap muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Jihad dapat dilakukan dengan :
1. Jihad dengan lisan dan tulisan
Mengajak ummat Islam dan ummat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu ‘Aliahi wa Sallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa ummat Islam ini. Beliau bersabda :
“Hari kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari ummatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari ummatku menyembah berhala-berhala.” (Hadits shahih, riwayat Abu Dawud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)

2. Jihad dengan harta
Menginfaqkan harta buat penyebaran dan perluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku da’wah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada ummat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada mujahidin, baik berupa makanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.

3. Jihad dengan jiwa
Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah (Laa ilaha illallahu) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina.

Dalam hubungannya dengan ketiga perincian jihad diatas, Rasulullah Shallallahu ‘Alihi wa Sallam mengisyaratkan dalam sabdanya :
“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR Abu Dawud, hadits Shahih).

(Disadur dengan beberapa ringkasan dari kitab Manhaj Al-Firqatun Naajiah (Jalan Golongan Yang Selamat), karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari tulisan ini. Amin

Wallahu Alam Bish-Shawab

Pokok - pokok Kesesatan Syi'ah

Inilah Pokok-Pokok Kesesatan Syiah

Asal-usul Syiah
Syiah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara', Syi'ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, lalu Abdullah bin Saba' engintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi saw sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Namun, menurut Abdullah bin Saba', Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

Aliran Syi'ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 hijriyah dan abad-abad berikutnya.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syiah pada Periode Pertama :
1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib ra.
2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa)
3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.
4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba' dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib karena keyakinan tersebut.
6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut
7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa' wal Firaq wal Bida' wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237)
8. Pada abad ke-2 hijriyah, perkembangan keyakinan Syi'ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

Pokok-Pokok Penyimpangan Syi'ah Secara Umum :
1. Pada Rukun Iman :
Syiah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Rasul dan Qadha dan Qadar, yaitu :
1. Tauhid (keesaan Allah),
2. Al-'Adl (keadilan Allah)
3. Nubuwwah (kenabian),
4. Imamah (kepemimpinan Imam),
5. Ma'ad (hari kebangkitan dan pembalasan).
(Lihat 'Aqa'idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll)
2. Pada Rukum Islam :
Syiah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu :
1.Shalat,
2.Zakat,
3.Puasa,
4.Haji,
5.Wilayah (perwalian) (lihat Al-Khafie juz II hal 18)

3. Syi'ah meyakini bahwa Al-Qur'an sekarang ini telah dirubah, ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti :

"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina FII 'ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih " (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)

Ada tambahan "fii 'Aliyyin" dari teks asli Al-Qur'an yang berbunyi :

"wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna 'ala 'abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih" (Al-Baqarah:23)

Karena itu mereka meyakini bahwa : Abu Abdillah a.s (imam Syiah) berkata: "Al-Qur'an yang dibawa oleh Jibril a.s kepada Nabi Muhammad saw adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur'an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah (lihat kitab Syi'ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy)

4. Syi'ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi saw, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244)

5. Syi'ah menggunakan senjata "taqiyyah" yaitu berbohong, dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217)

6. Syi'ah percaya kepada Ar-Raj'ah yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

7. Syi'ah percaya kepada Al-Bada', yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja'far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga).

8. Syiah membolehkan "nikah mut'ah", yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib sendiri.

Nikah Mut'ah
Nikah mut'ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.
Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut'ah dan nikah sunni (syar'i) :
1. Nikah mut'ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
2. Nikah mut'ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia.
3. Nikah mut'ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
4. Nikah mut'ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.
5. Nikah mut'ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
6. Nikah mut'ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.



Dalil-Dali Haramnya Nikah Mut'ah
Haramnya nikah mut'ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi saw juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

Dalil dari hadits Nabi saw yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma'bad Al-Juhaini, ia berkata: "Kami bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: "Ada selimut seperti selimut". Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah saw sedang berpidato diantara pintu Ka'bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut'ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut'ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut'ah sampai Hari Kiamat (Shahih Muslim II/1024)

Dalil hadits lainnya: Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad saw melarang nikah mut'ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)

Pendapat Para Ulama
Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut :
 Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: "Nikah mut'ah ini bathil menurut madzhab kami.
Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada'i Al-Sana'i fi Tartib Al-Syara'i (II/272) mengatakan, "Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut'ah"
 Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, "hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut'ah mencapai peringkat mutawatir".
Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, "Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil."
 Dari Madzhab Syafi', Imam Syafi'i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, "Nikah mut'ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan."
Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu' (XVII/356) mengatakan, "Nikah mut'ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu."
 Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, "Nikah Mut'ah ini adalah nikah yang bathil." Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut'ah adalah haram.

Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi'ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propaganda Syi'ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama "Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait", sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih. Lebih lanjut bagi yang ingin tahu lebih banyak, silakan membaca buku kami "Mengapa Kita Menolak Syi'ah".

Rujukan:
1. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, ”Dirasat fil ahwa wal firaq wal Bida' wa Mauqifus Salaf minha”
2. Drs. KH Dawam Anwar dkk, Mengapa Kita menolak Syi'ah
3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto
4. Abdullah bin Sa'id Al-Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah.
5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi'ah.

Sumber : Buletin LPPI.
Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

Kesesatan Jama'ah Ahmadiyah


Nah, inilah diantara tokoh jama'ah ahmadiyah itu


Membongkar kesesatan dan kedustaan Ahmadiyah

Perhatikan kesesatan jama'ah ahmadiyah dibawah ini:

1.Aliran Ahmadiyah-Qadiyani itu berkeyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi dan Rasul, kemudian barangsiapa yang tidak mempercayainya adalah kafir murtad

2.Ahmadiyah-Qadiyani memang mempunyai Nabi dan Rasul sendiri yaitu Mirza Ghulam Ahmad dari India

3.Ahmadiyah-Qadiyan mempunyai kitab suci sendiri yaitu kitab suci "Tadzkirah"

4.Kitab suci”Tadzkirah” tersebut adalah kumpulan wahyu yang diturunkan “tuhan” kepada Mirza Ghulam Ahmad yang kesuciannya sama dengan kitab suci Al-Qur’an, karena sama-sama wahyu dari Tuhan, tebalnya lebih tebal dari Al-Qur’an, dan kitab suci Ahmadiyah tersebut ada di kantor LPPI

5.Kalangan Ahmadiyah mempunyai tempat suci tersendiri untuk melakukan ibadah haji yaitu Rabwah dan Qadiyan di India. Mereka mengatakan: “Alangkah celakanya orang yang telah melarang dirinya bersenang-senang dalam haji akbar ke Qadiyan. Haji ke Makkah tanpa haji ke Qadiyan adalah haji yang kering lagi kasar”. Dan selama hidupnya “nabi” Mirza tidak pernah haji ke Makkah

6.Kalau dalam keyakinan umat Islam para nabi dan rasul yang wajib dipercayai hanya 25 orang, dalam ajaran Ahmadiyah Nabi dan Rasul yang wajib dipercayai harus 26 orang, dan Nabi dan Rasul yang ke-26 tersebut adalah “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

7.Dalam ajaran Islam, kitab samawi yang dipercayai ada 4 buah yaitu: Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Tetapi bagi ajaran Ahmadiyah Qadiyan bahwa kitab suci yang wajib dipercayai harus 5 buah dan kitab suci yang ke-5 adalah kitab suci “Tadzkirah” yang diturunkan kepada “Nabi Mirza Ghulam Ahmad”

8.Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha’ 11. Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka singkat dengan H.S. Dan tahun Ahmadiyah saat ini adalah tahun 1373 H.S (1994 M atau 1414 H). Kewajiban menggunakan tanggal, bulan dan tahun Ahmadiyah tersendiri tersebut di atas perintah khalifah Ahmadiyah yang kedua yaitu Basyiruddin Mahmud Ahmad

9.Berdasarkan firman “tuhan” yang diterima oleh “nabi” dan “rasul” Ahmadiyah yang terdapat dalam kitab suci “Tadzkirah” yang artinya: “Dialah tuhan yang mengutus rasulnya “Mirza Ghulam Ahmad” dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas segala agama-agama semuanya.(“kitab suci Tadzkirah” hal. 621)

Berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab suci Ahmadiyah di atas BAHWA AHMADIYAH BUKAN SUATU ALIRAN DALAM ISLAM, TETAPI MERUPAKAN SUATU AGAMA YANG HARUS DIMENANGKAN TERHADAP SEMUA AGAMA-AGAMA LAINNYA TERMASUK AGAMA ISLAM

10.Ahmadiyah mempunyai nabi dan rasul sendiri, kitab suci sendiri, tanggal, bulan dan tahun sendiri, tempat untuk haji sendiri serta khalifah sendiri yang sekarang khalifah yang ke-4 yang bermarkas di Inggris bernama: Thahir Ahmad. Semua anggota Ahmafiyah di seluruh dunia wajib tunduk dan taat tanpa reserve pada perintah dia. Orang di luar Ahmadiyah adalah kafir dan wanita Ahmadiyah haram kawin dengan laki-laki di luar Ahmadiyah. Jika tidak mau menerima Ahmadiyah tentu mengalami kehancuran

11.Berdasarkan “ayat” kitab suci Ahmadiyah “Tadzkirah” bahwa tugas dan fungsi Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul yang dijelaskan oleh kitab suci umat Islam Al-Qur’an, dibatalkan dan diganti oleh “nabi” orang Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad

11.1. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab suci’Tadzkirah” ini dekat dengan Qadiyan-India. Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya dan dengan kebenaran dia turun.” (“kitab suci” Tadzkirah hal.637)
11.2. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: ”Katakanlah-wahai Mirza Ghulam Ahmad-jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku”
(“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
11.3.Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah
Artinya: “Dan Kami tidak mengutus engkau-wahai Mirza Ghulam Ahmad-kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (kitab suci “Tadzkirah” hal. 634)
11.4. Firman “tuhan” dalam kitab suci “Tadzkirah”:
Artinya: “Katakan wahai Mirza Ghulam Ahmad-sesungguhnya aku ini manusia biasa seperi kamu, hanya diberi wahyu kepadaku”.(“kitab suci Tadzkirah hal. 633)
11.5. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu - wahai Mirza Ghulam Ahmad - kebaikan yang banyak” (“kitab suci” Tadzkirah hal.652)
11.6. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan engkau - wahai Mirza Ghulam Ahmad - imam bagi seluruh manusia” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 630)
11.7. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” “Tadzkirah”:
Artinya: “Oh, pemimpin sempurna, engkau - wahai Mirza Ghulam Ahmad - seorang dari rasul, yang menempuh jalan betul, diutus oleh Yang Maha Kuasa, Yang Rahim” (“kitab suci” Tadzkirah hal. 658-659)
11.8. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam lailatul qadr” (kitab suci Tadzkirah hal. 519)
11.9. Firman “tuhan” dalam “kitab suci” Tadzkirah:
Artinya: “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar. (Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an” (“kitab suci” Tadzkirah hal.620)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat kitab suci Al-Qur’an yang dibajaknya. Ayat-ayat “kitab suci” Ahmadiyah Tadzkirah yang dikutip di atas, adalah penodaan dan bajakan-bajakan dari kitab suci Umat Islam Al-Qur’an.
Dan Mirza Ghulam Ahmad mengaku pada umatnya -orang Ahmadiyah-bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu yang dia terima dari “tuhannya” di I N D I A.

12. PENODAAN AGAMA DAN HUKUMNYA

12.1 Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.

12.2 Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.:
2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.

13.1. Malaysia telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Malaysia sejak tanggal 18 Juni 1975.

13.2. Brunei Darussalam juga telah melarang ajaran Ahmadiyah di seluruh Brunei Darussalam.

13.3. Rabithah `Alam Islami yang berkedudukan di Makkah telah mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan KELUAR DARI ISLAM.

13.4. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah KAFIR dan TIDAK BOLEH pergi haji ke Makkah.

13.5. Pemerintah Pakistan telah mengeluarkan keputusan bahwa Ahmadiyah adalah golongan MINORITAS NON MUSLIM.

14. K E S I M P U L A N

a."Ahmadiyah sebagai perkumpulan atau jemaat didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di Qadiyan - I N D I A (sekarang Pakistan) tahun 1889, yang karena perbedaan pandangan tentang penerus kepemimpinan dalam Ahmadiyah dan ketokohan pendirinya berkembang dua aliran, yaitu Anjuman Ahmadiyah (Ahmadiyah Qadiyan) dan Anjuman Ishaat Islam Lahore (Ahmadiyah Lahore).Kedua aliran tersebut mengakui kepemimpinan dan mengikuti ajaran serta paham yang bersumber pada ajaran Mirza Ghulam Ahmad.

b.Jemaat Ahmadiyah masuk dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1920-an dengan menamakan diri Anjuman Ahmadiyah Qadiyan Departemen Indonesia dan kemudian dinamakan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dikenal dengan Ahmadiyah Qadiyan, dan Gerakan Ahmadiyah Lahore Indonesia (GIA) yang dikenal dengan Ahmadiyah Lahore.

c.Mirza Ghulam Ahmad mengaku telah menerima wahyu, dan dengan wahyu itu dia diangkat sebagai nabi, rasul, al-Masih Mau`ud dan Imam Mahdi. Ajaran dan faham yang dikembangkan oleh pengikut Jemaat Ahmadiyah Indonesia khususnya terdapat penyimpangan dari ajaran Islam berdasarkan Al-Qur`an dan Al-Hadits yang menjadi keyakinan umat Islam umumnya, antara lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad sesudah Rasulullah saw.(BALITBANG DEPAG RI, Jakarta, 1995 hal. 19, 20,21)

P E N U T U P

Sebagai penutup brosur ini, kami kutip sebuah ayat Al-Qur`an yang mengancam orang yang mengaku menerima wahyu serta menulis kitab dengan tangannya sendiri, kemudian dikatakannya dari Allah swt dengan dusta yang amat keji seperti yang dilakukan oleh "nabi" Mirza di atas.
Allah swt berfirman:
"Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri lalu dikataknnya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaanlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah 79)

Cat: Apabila PB Ahmadiyah berkeberatan dengan isi brosur ini, alangkah baiknya diselesaikan melalui debat terbuka yang disaksikan oleh umat.

Sumber: Buletin LPPI. Masjid Al-Ihsan Lt.III Proyek Pasar Rumput Jakarta 12970 Telp/Fax. (021)8281606

15 Maret 2009

Imam Hasan al-Banna



Siapa beliau itu?
Hari Rabu yang lalu 12 Feb 1997 merupakan tarikh syahidnya Imam al Banna yang cemerlang kehidupannya yang “pendek tetapi panjang” (1906 - 1949) rahimahullahutaala dengan asasnya yang kuat semenjak kecil, pembentukkannya yang tinggi, pembinaannya yang bertambah kemuncak dari hari kehari bahkan detik demi detik. Pembinaan dakwah berlaku melalui tangannya, sebagai satu gambaran daripada aktivitinya yang tertegak di atas kefahaman yang luas dan mendalam, yang disandarkan kepada keikhlasan yang mendalam, ketepatan yang unggul dalam usaha untuk merealisasikan amalan yang tersusun (berorganisasi) dan lantas melaksanakannya. Justeru itu maka telah terkumpullah untuk dakwah ini rukun-rukun kejayaan yang terpenting dan terlaksanalah baginya ufuk-ufuk penyebaran perkembangan, dan kaedah-kaedah tajdid (reformasi), bahkan ianya satu ijtihad yang jitu.
Di antara tanda-tanda yang paling nyata yang telah dibentangkan dengan jayanya dalam kehidupan al Imam al Mujaddid ini adalah seperti berikut:
1. Gerakan Yang Meluas Lagi Cemerlang
Al Imam telah menyempurnakan gerakannya ke bandar-bandar, ke pelusuk kampung, ladang, masjid, bahkan ke kedai-kedai kopi serta di tempat perkumpulan orang ramai. Dan maklumat hal ehwal keadaannya memanifestasikan sabda Rasulullah saw “biarkan aku dengan manusia”. Maka beliau telah menziarahi 3,000 kampung ataupun lebih sebagai penceramah, jurubicara dan penasihat yang cemerlang. Membangkitkan manusia drp. tidur mereka, memperbaharui harapan di dalam diri dan pemimpin mereka. Beliau berhubung dengan pemimpin tanpa mengabaikan golongan bawahan. Beliau juga menyeru syeikh dan para ulama ke arah asas kefahaman yang baru kepada Islam yang ditegakkan di atas prinsip-prinsip yang jelas. Beliau tidak mencuaikan masyarakat umum, begitu juga beliau memberikan tumpuan kepada pemuda/remaja bahkan berusaha menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang sukar dengan berperingkat-peringkat serta penguasaan. Adapun tumpuannya yang setempat adalah Mesir dan tumpuannya yang secara lebih luasnya adalah kepada dunia Arab dan Islam. Manakala tumpuannya yang universal dan terbesar adalah kemanusiaan dan Ustaziatul `alam (orde dunia), sehinggalah semuanya dineutralkan lalu menjadi suatu tumpuan sahaja tetapi mengandungi berbagai-bagai aspek.
2. Tidur Yang Sedikit.
Adapun waktu menurut beliau adalah kehidupan dan waktu pada fahamannya tidak terhenti kepada batas-batas material iaitu emas semata-mata. Beliau juga tidak bersikap birokratik dari segi kedudukan pangkat dan jawatan, bahkan ia tidak mensia-siakan walau satu detik kehidupannya pada perbualan kosong dan terlalu banyak soal jawab terutamanya pada perkara yang tidak mempunyai apa-apa kelebihan. Beliau begitu asyik dengan dakwahnya sehingga beliau tidak tidur malam kerana cintakannya, berfikir untuknya, membuat perancangan baginya, memperkembangkan matlamat dan metodologinya. Kerana itu terbitlah risalah-risalahnya seperti: Da’watuna, ila ayyi syaiin nad`un nas, dakwatuna fi turin jadid, Ilas syabab dsbnya. Untuk memperkuatkan lagi perkembangan dan titik tolak (perjuangan fikrah dakwahnya). Beliau tidak berhenti disebabkan kesesatan serta tidak disibukkan dengan urusan titik bengik. Beliau juga tidak terbeban dengan kerehatan jasad seperti tidur dan bersantai, kerana da’wah pada hematnya adalah ruh yang mengalir di dalam ummat yang dihidupkan oleh al Quran.
3. Luas Ilmu Serta Menghormatinya (ilmu)
Imam al Banna berusaha untuk mengembalikan penyebaran Islam dengan seluruh sifat-sifat syumul (kesempurnaan), rabbani (bersumber dengan sumber-sumber ketuhanan) dan universal. Pernah diceritakan oleh orang yang memeriksa perpustakaan beliau setelah puluhan tahun shahidnya beliau, tentang betapa banyak, menakjubkan serta mendalam komentar-komentar yang beliau tulis di pinggir-pinggir perpustakaan tersebut dari apa yang telah dibaca dari buku-buku mengenai politik, ekonomi, sosial, sejarah, geografi, peperangan, perjanjian-perjanjian, hubungan antarabangsa, ugama-ugama da’wah dan sebagainya. Beliau begitu cintakan ilmu dan para ulama’. Suasana kemunduran didalam ummat telah merisaukan beliau, begitu juga pelbagai tohmahan yang dilemparkan kepada Islam yang menunjukkan kepada kejahilan dan sikap tidak ambiltahu. Kerana itu beliau telah menekankan di dalam Risalah Ta’alim: “Islam membebaskan aqal serta menggalakkan pengkajian alam semesta, juga meninggikan taraf ilmu dan ulama’. Ia juga mengalu-alukan segala yang baik lagi bermanfaat dari setiap sesuatu. ”Hikmah adalah barang yang hilang dari orang mu’min, dimana sahaja dia menjumpainya, dialah yang lebih berhak terhadapnya.”
4. Keikhlasan dan Kecintaan Terhadap Da’wah
Al Banna mempunyai kelebihan dengan kerohaniannya yang tinggi yang mengatasi individualiti, ciri-ciri peribadi, parti-parti, puak-puak, bahkan seluruh penyakit-penyakit hati yang lain. Tidak terkumpul di dalam hatinya melainkan rasa cinta kepada da’wah, suatu cinta yang tidak meninggalkan sebarang waktu di dalam jiwa melainkan akan sibuk dengannya, tidak juga suatu ruang kosong melainkan akan dipenuhinya. Beliau disibukkan oleh fikrah dan da’wah didalam berlalunya waktu, maka beliau berusaha kearah mematangkannya (fikrah dan da’wah) dengan meletakkan serta memperbaharui objektif dan matlamat. Kemudian beliau menggariskan wasilah (method) dan alat (strategi). Lalu beliau melintasi batas-batas taqlid, tapi menghormati ikutan tersebut. Sebagaimana beliau juga berusaha menyinambungkan proses tajdid disamping menghormati ufuk-ufuk linkungan dan martabat ketinggian. Beliau meningkat dengan banyak di dalam hidupnya, kerana beliau memahami hakikat bahawa “sesiapa yang sama dua hari (dalam hidupnya) maka dia telah tertipu”. Beliau mengambil berat terhadap ummat seluruhnya dengan sebenar-benarnya, sehingga tanahair islam pada hemat beliau dan ikhwan muslimin adalah seluruh bumi yang ada padanya muslim, kerana pemahaman yang baik terhadap sabda rasulullah s.a.w.: “Sesiapa yang tidak mengambilberat terhadap urusan orang islam bukanlah dari golongan mereka.”
5. Memberikan sifat dan neraca sukatan
Al-Imam alBanna telah meletakkan sejumlah neraca sukatan untuk mengukur kadar iltizam, kefahaman, akhlaq yang baik, serta perlaksanaan beban da’wah. Di antara neraca dan kayu ukur yang terpenting adalah rukun-rukun bai’ah yang sepuluh: Faham, ikhlas, amal, jihad, tadhiyah (pengorbanan), taat, thabat (teguh), tajarrud (tumpuan penuh), ukhuwwah dan thiqah (kepercayaan). Begitu juga : “Wajibat al akh al muslim” (Kewajiban akh muslim) iaitu 38 kewajiban. Begitu juga “Simat al akh al muslim” (Tanda-tanda akh muslim) iaitu: sejahtera aqidah, sahih (betul) ibadah, teguh akhlaq, kuat badan, akal yang berpengetahuan, berjihad terhadap hawanafsunya, berorganisasi dalam urusannya, menjaga waktu, mampu menyara diri, serta bermanfaat kepada orang lain.
Sesungguhnya kami, dalam bicara yang cepat (ringkas) ini, tidaklah mencatitkan sejarah untuk lelaki ini (alBanna). Sehingga hari ini belum ada sebarang catatan sejarah yang layak untuk Imam mujaddid ini. Kami juga tidak berniat memuji-muji alImam yang unggul ini, bahkan kami tidak merasakan beliau perlu kepada pujian dari kami, tetapi kami ingin untuk menggambarkan beberapa pengajaran dari gambaran peribadi penda’wah yang unggul ini untuk sesiapa yang ingin mengambil pengajaran darinya, pada waktu yang bersangatan kegelapan kemunduran, penindasan serta berceraiberai yang dilalui oleh ummat. Sesungguhnya AlImam al Banna rahimahullah- berada setapak kedepan didalam memahami golongan salaf, dan dia adalah model imam golongan khalaf. Beliau membangkitkan alam Islami dari tidurnya tanpa mempunyai sebarang mekanisma pemerintah dan menteri-menteri di dalam tangannya. Sehinggalah hari ini berkumandanglah suara Islam yang benar melaungkan disegenap tempat: “Islam Adalah Agama dan Negara”, selepas dari keadaan di mana Ibadah di sudutkan di penjuru-penjuru masjid sahaja, ataupun aqidah yang di simpan disudut-sudut hati, dan perasaan di dalam jiwa semata-mata.
Betapa indahnya tulisan beliau semasa memberi amaran tentang pemberian tanggungjawab yang tidak disertakan dengan aspek ruhi, (Beliau begitu menekankan setiap tarbiah hendaklah rabbani dan ruhi) beliau juga menyeru untuk meningkatkan ukhuwwah dari tahap percakapan dan teori kepada tahap perlakuan dan amal perbuatan, dan di dalam pembentukan usrah-usrah Islamiah disandarkan kepada tiga rukun : Taaruf (saling kenal mengenali), Tafahum (saling faham memahami) dan Takamul (saling lengkap melengkapi).
6. Bersyukur Semasa Menghadapi Tribulasi Dan Positif Dalam Amal
Ustaz alBanna menceritakan dalam “Muzakkirot adda’wah wad da’iah” beberapa contoh tipudaya yang hina yang telah dilaluinya semasa zaman pembelajarannya dengan sebab kecemerlangan beliau mengatasi rakan pelajar yang setengahnya lebih berusia dari beliau. Sehinggakan salah seorang dari mereka telah mencurahkan keatas muka dan tengkok beliau sebotol campuran peluntur (asid) yang pekat semasa beliau tidur untuk menghalang beliau dari menduduki peperiksaan akhir tahun pengajian, tetapi anihnya, alBanna telah berjaya dalam peperiksaan tersebut. Beliau menganggap itu sebagai ni’mat serta kelebihan dari Allah yang wajib diterima dengan kesyukuran dan kesyukuran pada hemat beliau adalah memberikan kemaafan. “Dan barangsiapa yang memberi kemaafan dan berlapang dada, maka ganjarannya pada Allah”.
Beliau juga telah membentangkan banyak contoh tipudaya yang hina ini di dalam kehidupannya sebagai penda’wah, juga dorongan kekerasan dari golongan yang mengintip da’wah serta membencinya. Mereka telah melemparkan tohmahan bahawa beliau mengadakan bid’ah di dalam agama, mengendalakan masjid-masjid, memerangi Islam, serta memberikan fatwa dengan batil semasa beliau berusaha untuk melaksanakan sunnah dengan menunaikan solat sunat hariraya di tanah lapang. Begitu juga mereka melemparkan tuduhan-tuduhan terhadap beliau dan al Ikhwan selepas daripada ceramah yang beliau sampaikan tentang Isra’ dan mi’raj dengan menda’wa bahwa ikhwan muslimin menginkari isra’ dan mi’raj serta mengatakan bahwa peristiwa tersebut bukanlah mu’jizat, serta berlaku dengan ruh sahaja tidak dengan badan, lalu mereka telah keluar dari ijma’ umat Islam serta apa yang telah diterima oleh para imam.
Bahkan ada juga yang menuduh bahwa alBanna menjadi “ilah” yang di sembah oleh al ikhwan. Akan tetapi, pendirian al Banna dalam menghadapi tohmahan-tohmahan tersebut adalah dengan memberikan contoh tauladan melalui amalan secara serius menentang kebatilan–kebatilan tersebut. Beliau berkata: “Sibukkan manusia daripada pemikiran yang salah dengan (memberikan atau mengajar) pemikiran yang benar”. Sebenarnya, alBanna sedar serta yaqin bahawa hakikat berda’wah adalah manusia akan mengata-ngata keatasnya dengan kebatilan.
Semoga Allah merahmati AlBanna dengan rahmat yang luas serta menyempurnakan ganjaran bagi beliau, juga meneguhkan kita di atas jalan hak dan kekuatan selepas dari pemergian beliau.

I

14 Maret 2009

Pemikiran Gerakan Ikhwan

Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan
________________________________________
Rukun-rukun Bai'at itu adalah Al-Fahm (pemahaman), Ikhlas, Jihad, Tadhiyah (pengorbanan), Ath-Tha'ah (ketaatan), Tsabat (keteguhan), Tajaarud (Kemurnian), Ukhuwah, Tsiqah (Kepercayaan).
________________________________________
Rukun ke-1
Al-Fahm
imam Syahid Hasan Al-Banna berkata :
"yang dimaksud dengan Al-Fahm adalah hendaknya anda yakin bahwa fikrah kita adalah fikrah islamiyah yang murni, dan anda memahami islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas Ushul 'Isyrin ((20 prinsip) yang sangat ringkas:
Prinsip Pertama
Islam adalah sistem yang mencakup seluruh segi kehidupan. maka ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan ummat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.
fikrah mereka integral mencakup seluruh aspek. setelah itu anda dapat mengatakan dengan tanpa merasa salah, bahwa ikhwanul muslimin adalah:
1. Dakwah Salafiyah : karena ereka menyeruuntuk kembali sumber ajaran islam yang murni, yaitu kitabullah dan Sunnatur Rasul
2. Thariqah Sunniyah : karena mereka memaksa jiwanya untuk mengamalkan sunnah yang suci dalam segala hal - terutama dalam masalah aqidah dan ibadah - sebatas kemampuan yang ada.
3. Hakikat Sufiyah : karena mengetahui bahwa asas kebaikan adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kesabaran dalam melakukan amal, berpaling dari (ketundukan terhadap) makhluq, cinta karena Allah, dan keterikatan dengan kebaikan.
4. Hai'ah Siyasiyah (Organisasi Politik) : kerana secara intern mereka menuntut perbaikan pemerintahan, sedang secara ekstern meluruskan cara pendang terkait dengan hubungan ummat islam dengan umat yang lain, mendidik bangsa agar meraih kemuaan dan izzah serta menjaga identitas ummat semaksimal mungkin.
5. Jama'ah Riyadhiyah (klub olah raga) : karena mereka memperhatikan fisiknya, memahami bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai Allah Allah daripada mukmin yang lemah. sebagaimana Rasulullah bersabda "Sesungguhnya fisikmu mempunyai hak atas dirimu".
6. Rabithah Ilmiyah Tsaqafiyah (wawasan ilmiah) : karena islam menjadkan belajar atau mununtut ilmu sebagai kewajhiban bagi setiap muslim dan muslimah.
7. Syirkah Iqtishadiyah (serikat ekonomi) : karena islam memperhatikan pengaturan dan pengolahan harta secara benar.
8. Fikrah Ijtimaiyah (organisasi Sosial) : karena ikhwan sangat peduli terhadap penyekit masyarakat dan berusaha sekuat tenaga mencari terapi untuk mengobatinya.
Prinsip Kedua
"Al - Quranul Karim dan Sunnah Rasul yang suci adalah rujukan setiap muslim untuk mengenal dan memehami hukum-hukum Islam. Al-Quran harus difahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa arab, tanpa Takalluf (sikap memaksakan diri dalam memaknakan suatu ayat hingga melampaui makna yang sebenarnya) dan Ta'assuf (secara serampangan). sedangkan sunnah yang suci harus difahami melalui para ahli hadits yang terpercaya"
Prinsip Ketiga
"Keimanan yang murni, ibadah yang benar, dan Mujahaddah (bersungguh-sungguh dalam beribadah) adalah cahaya dan kelejatan yang Allah curahkan pada hati hamba-hambanya yang dia kehendaki. sementara ilham, lintasan pikiran, kasyf (ketersingkapan rahasia gaib), dan mimpi-mimpi, itu semua bukan termasuk hukum syariat islam. maka semua itu tidak perlu diperhatikankecuali bila tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teksnya."
Prinsip Keempat
"Jimat, jampi (ruqyah), guna-guna, peramalan, perdukunan, mengaku tahu hal-hal gaib, dan semisalnya adalah kemunkaran yang wajib diberantas. kecuali jimat yang berasal dari Al-Quran atau jampi yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw"
Prinsip Kelima
Pendapat imam (pemimpin) dan wakilnya tentang ; hal-hal yang tidak ada teks hukumnya, hal-hal yang mengandung beragam interpretasi, dannhal-hal yang membawa kemaslahatan umum yang tidak ada nashnya(maslahat mursalah), harus diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat. pendapat tersebut mungkin akan berubah sejalan situasi, kondisi, adat, dan tradisi.
pada dasarnya ibadah adalah kepatuhan total, tanpa mempertimbangkan makna-maknanya. sedangkat adat istiadat(urusan selain ibadah ritual) harus mempertimbangkan rahasia-rahasianya, hikmah, maksud, dan tujuannya.
Prinsip Keenam
Setiap orang dapat ditolak ucapannya, kecuali Al Maksum (Rasulullah Saw) segala yang datang daripada pendahulu (salafush shaleh) yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah kita terima sepenuh hati. Bila tidak, maka Al Quran dan Sunnah lebih utama untuk diteliti, namun demikian, kita tidak boleh mencacimakidan menjelek-jelekan pribadi mereka dalam masalah-masalah yang masih diperselisihkan, serahkan saja kepada niat mereka masing-masing, sebab mereka telah mendapat apa yang telah mereka kerjakan.
Prinsip Ketujuh
"Setiap Muslim yang belum mempunyai kemampuan telaah terhadap dalil-dalil hukum furu' (cabang), hendaklah mengikuti salah seorang imam (pemimpin Agama). namun lebih baik lagi kalau sikap mengikuti tersebut diiringi dengan upaya semampunya dalam memahami dalil-dalil yang dipergunakan oleh imamnya, dan hendaklah ia mau menerima setiap masukan yang disertai dalil, bila ia percaya pada kesalehan dan kapasitas orang yang memberi masukan tersebut. Bila ia termasuk ahli ilmu, maka hendaklah selalu berusaha menyempurnakan kekurangannya dalam keilmuan sehingga dapat mencapai derajat penelaah".
Prinsip Kedelapan
Perbedaan paham dalam masalah-masalah Furu' hendaklah tidak menjadi faktor pemecah belah dalam agama, dan tidak menyebabkan permusuhan dan kebencian. setiap mujtahid akan mendapatkan pahala masing-masing. tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang objektif dalam persoalan-persoalan Khilafiyah (masalah-masalah fiqih yang masih diperselisihkan oleh para ulama) dalam suasana saling mencintai karena Allah dan tolong-menolong mencapai kebenaran yang sebenarnya. Studi tersebut tidak boleh menyeret pada debat yang tercela dan fanatik buta.
Prinsip Kesembilan
Memperdalam pembahasan tentang masalah-masalah yang amal tidak dibangun diatasnya(tidak menghasilkan amal nyata) adalah sikap takalluf (memaksakan diri) yang dilarang oleh Islam. Misalnya, memperluas pembahasan tentang berbagai hukum bagi masalah-masalah yang tidak benar-benar terjadi, memperbincangkan ayat-ayat Al Quranul karim yang belum dijangkau oleh ilmu pengetahuan, perdebatan dalam membandingkan keutamaan sahabat R.A. atau memperbincangkan perselisihan yang terjadi diantara mereka, padahal masing-masing memiliki keutamaan sebagai sahabat Nabi saw serta pahala dari niat mereka. dan menafsiri secara positif (perselisihan mereka) dapat menyelamatkan diri dari dosa (mencaci mereka).
Prinsip Kesepuluh
Ma'rifah (mengenal) Allah swt mengesakan-Nya, dan memahasucikan Dia adalah setinggi tinggi tingkatan aqidah islam. sedangkan ayat-ayat dan hadits-hadits shahih tentang sifat-sifat Allah adalah termasuk Mutasyabihat. kita wajib mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa menawilkan dan tanpa pengingkaran (ta'thil), serta tidak perlu memperuncing perbedaan pendapat diantara para ulama tentang hal tersebut. kita mencukupkan diri seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.
"dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata,"kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami"." (QS. Ali Imran, 3 : 7)
Prinsip Kesebelas
Segala bentuk Bid'ah dalam agama yang tidak mempunyai dasar pijakan tetapi dianggap bagus oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan diberantas dengan menggunakan cara yang sebaik-baiknya, yang tidak malah menimbulkan kejelekan yang lebih parah.
Prinsip Keduabelas
Bid'ah idhafiyah, bid'ah tarkiyah dan bid'ah iltizam pada ibadah yang muthlaq (tidak ditentukan waktu, tempat, dan bilangannya) adalah masalah khilafiyah dalam bab fiqh. masing-masing orang mempunyai pendapat dalam masalah tersebut. Namun tidaklah mengapa jika dilakukan penelitian untuk sampai pada hakikatnya dengan dalil dan argumentasi.
Prinsip Ketigabelas
mencintai orang-orang shaleh, menghormati mereka dan memuji mereka karena amal-amal baik mereka yang nampak adalah bagian dari taqarrub kepada Allah swt. sedangkan para wali adalah orang-orang yang disebut dalam firman Allah swt,"Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa". keramahan pada mereka itu benar adanya bila memenuhi syarat syar'inya, dan harus diyakini bahwa mereka tidak memiliki mudharat maupun manfaat bagi dirinya sendiri, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia, apalagi bagi orang lain.
Prinsip Keempatbelas
Ziarah kubur adalah Sunnah yang disyari'atkan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw. akan tetapi, meminta pertolongan kepada penghuni kubur -siapapun mereka-berdoa kepadanya, memohion pemenuhan hajat kepadanya (baik dari dekat maupun dari jauh), bernadzar untuknya, pembangur kuburnya, menghiasinya, memberinya penerangan dan mengusapnya untuk mengambil berkah, juga bersumpah dengan selain Allah swt dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid'ah besar yang wajib diperangi. dilarang keras mencaci takwil (pembenaran) terhadap amalan-amalan tersebut, demi menutup fitnah yang lebih parah lagi.
Prinsip Kelimabelas
Berdo'a kepada Allah disertai tawassul (perantara) dengan salah satu makhluk-Nya adalah perbedaan dalam masalah furu' tentang tata cara berdo'a bukan termasuk masalah akidah.
Prinsip Keenambelas
Tradisi yang salah tidak dapat mengubah hakikat arti lafal-lafal yang sudah baku dalam syariat, maka seharusnya dipahami kembali makna yang dimaksud oleh lafal-lafal syariat dan tunduk kepadanya. Sebagaimana kita juga wajib berhati-hatinterhadap berbagai istilah yang menipu, yang sering digunakan dalam pembahasan masalah-masalah dunia dan agama. Ibrah (yang diwajibkan patokan) itu pada esensi dibalik suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.
Prinsip Ketujuhbelas
Akidah adalah asas bagi aktivitas, amal hati itu lebih penting daripada amal anggota badan. namun upaya mencapai kesempurnaan pada kedua hal tersebut merupakan tuntunan syariat, meskipun kadar tuntutan masing-masing berbeda.
Prinsip Kedelapanbelas
Islam itu membebaskan akal pikiran, menganjurkan untuk melakukan penelitian pada alam, mengengkat derajat ilmu dan para ulama, dan menyambut kehadiran segala sesuatu yang baik dan bermanfaat. "Hikmah adalah barang hilang milik orang yang beriman. dimanapun didapatkan, ia adalah orang yang paling berhak atasnya".
Prinsip Kesembilanbelas
Pandangan Syar'i dan pandangan logika memiliki wilayah sendiri-sendiri yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. namun demikian, keduanya tidak akan pernah berbeda dalam hal-hal qath'i (absolut). hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah syariat yang shahih. sesuatu yang masih bersifat Zhanni (tidak qath'i) dari salah satunya, harus ditafsiri sejalan dengan yang qath'i . bile kedua-duanya bersifat Zhanni, maka pandangan syariat lebih utama untuk diikuti, sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya, atau gugur sama sekali.
Prinsip Keduapuluh
kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan tuntutan-tuntutannya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya, baik karena pendapatnya maupun kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-kata kufur, atau mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai asas dari agama, atau mendustakan ayat-ayat Al Quran yang sudah jelas maknanya, atau menafsirkannya dengan cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab, atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak mungkin ditafsiri kecuali kekufuran.
________________________________________
Rukun ke-2
Al Ikhlas
imam Syahid Hasan Al-Banna berkata :
"yang saya maksud dengan ikhlas adalah bahwa seorang al Akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah SWT mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. dengan itulah ia menjadi tentara aqidah, bukan tentara kepentingan dan hanya mencari kemamfaatan dunia".
________________________________________
Rukun ke-3
Al Amal
Allah swt berfirman,
" Dan katakanlah,"beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yang telah kalian amalkan." (QS. At Taubah, 9 : 105)
________________________________________
Rukun ke-4
Al Jihad
Imam Asy-Syahid berkata:
"Yang saya maksud dengan 'Al Jihad' adalah sebuah kewajiban yang harus berlaku sampai hari kiamat. inilah yang dimaksud oleh Rasulullag saw, 'Barangsiapa mati, sementara ia belum pernah perperang dan belum berniat untuk perang, maka ia mati seperti matinya orang jahiliyyah."
Urutan jihad yang pertama adalah pengingkaran hati dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah. di antara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar dihadapan penguasa yang dzalim. tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. ketinggian dan luasnya cakrawala dakwah menjadi tolak ukur bagi sejauh mana keagungan jihad di jalannya, besarnya harga yang harus dibayar untuk pendukungnya, dan banyaknya pahala yang disediakan untuk para aktivisnya.
"Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad." (QS. Al Hajj, 22 : 78)
Dengan Demikian anda telah memahami makna slogan, "Jihad adalah jalan kami."
________________________________________
Rukun ke-5
At Tadhiyyah
Imam Asy-Syahid berkata:
yang dimaksud dengan At Tadhiyyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala-galanya demi mencapai tujuan. tidak ada jihad (perjuangan) di dunia ini yang tidak disertai pengorbanan. dan pengorbanan dalam rangka memperjuangkan fikrah kita tidaklah sia-sia, akan tetapi akan diganti dengan pahala yang tidak terhingga dan balasan yang baik. barang siapa yang tidak berkorban bersama kami, maka dia berdosa;
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka........" (QS. At Taubah, 9 : 111)
"Katakanlah, jika bapak-bapak , anak-anakmu, saudara-saudaramu......." (QS. At Taubah, 9 : 24)
"Demikian karena mereka tidak ditimpa kehausan dan kepayahan .." (QS. At Taubah, 9 : 120)
"Maka jika kalian taat, Allah pasti akan memberi kalian pahala yang baik" (QS. Al Fath, 48 : 16)
________________________________________
Rukun ke-6
Ath Tha'ah
Imam Asy-Syahid berkata:
yang saya maksud dengan Ath-Tha'ah adalah melaksanakan perintah dan merealisir dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun ,udah, saat bersemangat maupun malas. yang demikian itu karena tahapan dakwah ini ada tiga yaitu : ta'rif, takwin dan tanfidz.
________________________________________
Rukun ke-7
Ats Tsabat
Imam Asy-Syahid berkata:
yang saya maksud sengan Ats-Tsabat adalah bahwa hendaklah seorang al akh senantiasa bekerja sebagai mujahid dalam memperjuangkan hidupnya, betapapun jauh jangkauan dan lama waktunya, sampai bertemu dengan Allah swt dalam keadaan seperti itu, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu (mencapai tujuan) hidup mulia atau mati syahid.
"diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. dan diantara mereka ada yang masih menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya." (QS. Al Ahzab, 33 : 23)
________________________________________
Rukun ke-8
At Tajarrud
Imam Asy-Syahid berkata:
"yang saya maksud dengan tajarrud (kemurnian atau totalitas) adalah bahwa engkau harus tulus pada fikrahmu dan membersihkannya dari prinsip-prinsip lain serta pengaruh orang lain. sebab itu adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah."
"Celupan (shibghah) Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah." (QS. Al Baqarah, 2 : 138).
"Sesungguhnya telah ada teladan yang baik kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika meraka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja." (QS. Al Mumtahanah, 60 : 4)
________________________________________
Rukun ke-9
Al Ukhuwah
Imam Asy-Syahid berkata:
"Yang saya maksud dengan Al Ukhuwah adalah bahwa hendaknya berbagai hati dan ruh berpadu dengan ikatan akidah. akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan paling mahal. Ukhuwah merupakan wujud dari keimanan, sedang perpecahan adalah wujud dari kekufuran. kekuatan yang pertama adalah persatuan, tiada persatuan tanpa cinta kasih, sedangkan cinta kasih yang paling lemah adalah lapang dada dan puncaknya adalah itsar (mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri).
"Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al Hasyr, 59:9)
________________________________________
Rukun ke-10
Ats Tsiqah
Imam Asy-Syahid berkata:
"yang saya maksud dengan tsiqah (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang jundi (prajurit) atas qa'id (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap apa yang kamu putuskan, dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati." (QS. An Nisaa, 4 : 65)